Kamis, 19 November 2009

Jangan Terjadi Lagi Kelaparan Di Armina




Menag: Insya Allah Ibadah
Haji Tahun Ini Lebih Baik




Teks Foto: Menag Suryadharma Ali berbicara kepada para wartawan di Terminal Haji Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Kamis pagi (19/1) sesaat sebelum bertolak ke Tanah Suci.

Jakarta: Menteri Agama Suryadharma Ali berharap pelaksanaan ibadah haji tahun 1430 H/2009 M lebih baik dari tahun sebelumnya, sehingga tidak terjadi lagi masalah yang berakibat jamaah menjadi korban seperti kasus katering.
"Mengenai katering yang penting jangan terjadi kelaparan, " kata Menag kepada wartawan , Kamis (19/11) di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, sesaat sebelum bertolak ke Tanah Suci Kamis pagi (19/11).
Dia berangkat didampingi Ny. Indah Suryadharma bersama para jamaah asal Jawa Barat yang tergabung dalam kloter 75 JKS.
Menurut Menag, masalah katering yang terjadi tahun 2006 sebenarnya berawal dari maksud yang baik sebagai usaha efisiensi. Karena saat itu katering yang dinikmati jamaah dirasakan lebih mahal daripada haji khusus, tetapi kualitas menunya justru lebih rendah. Lalu kemudian dicari solusi untuk mensiasati masalah tersebut.
"Ternyata tidak mampu, memang tidak mudah memobilisasi konsumsi makan 200 ribu jamaah," katanya.
Lebih lanjut Menag mengungkapkan, masalah pemondokan jamaah haji di Makkah akan terus dibenahi, sehingga diharapkan pada tahun mendatang jarak terjauh pemondokan ke Masjidil Haram menjadi berkurang dari 7 km menjadi 4 km.
"Ini insya Allah, kami menargetkan pada tahun 2010 pemondokan paling jauh 4 km dari Masjidil Haram," janjinya.
Menurut Menag, bila target tersebut tercapai akan berpengaruh pada transportasi jamaah di kota Makkah, yang pada musim haji tahun 1430 H/2009 ini sebagai masalah krusial.
"Kalau pemondokan haji terjauh 4 km, maka transportasi sudah tidak perlu lagi. Apalagi mendekati musim puncak haji, kawasan 4 km sebelum Masjidil Haram sudah macet. Jadi jamaah lebih cepat jalan kaki menuju Masjidil Haram, daripada naik bus."
Menag menjelaskan, pada tahun ini pemondokan di Makkah yang terjauh 7 km dari Masjidil Haram, sehingga transportasi sangat penting. Untuk itu Pemerintah RI telah bekerja sama dengan muasassah untuk menyediakan bus-bus yang mengangkut bagi jamaah haji Indonesia menuju masjid terbesar di muka bumi ini.
"Tapi bus-bus tersebut tidak bisa merapat, kecuali 2km dari masjid, apalagi pada kondisi saat ini kepadatan luar biasa," katanya.
Disamping itu, lanjutnya, masih terdapat kendala antara lain, sopir bus yang bukan orang asli Makkah, mereka datang dari berbagai negara, sehingga nyasar. Juga munculnya peraturan lalu lintas di Makkah yang sering berubah-ubah. "Semula jalan ini boleh dilewati, lalu tidak boleh pada saat-saat tertentu, sehingga membuat bingung."
Hal lain adalah kemacetan yang luar biasa sehingga trayek bus tidak lancar. Dan persoalan juga muncul datang dari jemaah sendiri, pasalnya banyak yang baru pertama kali ke luar negeri, pertama kali naik pesawat.
"Ada jamaah yang tidak teliti naik saja bus, potensi nyasar," kata Menag. DJO

Tidak ada komentar: